Ketika Debitur Menjadi Kreditur


Baru-baru ini Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde berkunjung ke Indonesia dalam rangkaian  pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membahas isu ekonomi global termasuk kemungkinan adanya bantuan dana dari Indonesia kepada IMF sebesar 1 Miliar Dollar Amerika. Dana ini nantinya akan dipergunakan sebagai tambahan dana talangan yang akan disalurkan kepada Negara-negara di eropa yang sedang terimbas krisis ekonomi. Kesepakatan untuk memberikan kontribusi  guna memperkuat permodalan IMF ini sebenarnya telah disepakati dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 di meksiko beberapa waktu lalu.  Dan Indonesia termasuk di dalamnya.

Lantas, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah layakkah Indonesia memberikan bantuan dana sebesar itu kepada Badan Moneter Internasional tersebut ditengah kondisi Perekonomian Indonesia saat ini? Adakah hubungan kebijakan ini nantinya dengan cita-cita konstitusi Negara kita? Tidakkah akan ambivalen, memberikan bantuan keluar negeri begitu besar sementara kita sendiri masih berkutat berjuang melepaskan diri dari jerat utang luar negeri ? Melanggar Konstitusi kah?

Segudang pertanyaan tersebut menjadi bahasan yang menarik para pengamat politik. Namun, Sebelum membahas hal tersebut, baiknya kita mengkilas balik hubungan IMF dengan Indonesia terlebih dahulu. Dalam sejarahnya, Indonesia sendiri pernah meminjam  bantuan dana dari IMF pada saat krisis moneter tahun 1998. Banyak kalangan yang menilai, Pinjaman dana dari IMF saat itu dan resep ekonominya yang keliru  malah semakin menyulitkan kondisi perekonomian Indonesia.

Ekonomi Indonesia Membaik

Namun terlepas dari semua kontroversi bantuan dana dari imf tersebut, Dan ada tidaknya pengaruh dana talangan IMF itu, tapi  Makro dan mikro ekonomi Indonesia saat ini perlahan memang menunjukkan progres cukup signifikan. Pertumbuhan ekonomi yang terjaga di zona positif serta masuknya Indonesia dalam kategori Negara layak investasi menurut beberapa lembaga pemeringkat utang Internasional mengindikasikan bahwa Indonesia sudah jauh berbeda pada saat krisis moneter tahun 1998 silam. Rilis terakhir menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-16 negara dengan GDP tertinggi di dunia. Bahkan saat kembali terjadi krisis ekonomi global tahun 2008, Indonesia merupakan salah satu dari tiga Negara di Asia yang pertumbuhan ekonominya mengesankan.

Kondisi perbaikan ekonomi republik memang kontradiksi dengan kehidupan sosial dan politik. Perbaikan disektor ekonomi tidak dibarengi perbaikan signifikan sosial politik Negara kita. Konflik disana-sini serta semua pemberitaan mengenai kasus korupsi yang merajalela seolah memudarkan semua capaian Indonesia di bidang ekonomi. Belum lagi tingkah pola pejabat pemerintah baik legislatif maupun eksekutif yang tidak sesuai dengan harapan rakyat, terlalu sering bepergian keluar negeri misalnya, menimbulkan kebencian dan ketidak-percayaan masyarakat terhadap institusi politik.

Indonesia Salah Satu Anggota G20

Pada akhirnya, kondisi ekonomi yang membaik membawa Indonesia menjadi Negara anggota G-20 sebagai perwakilan Negara berkembang. Menjadi kebanggan dan keuntungan sendiri bagi Indonesia untuk mewakili seluruh Negara berkembang diseluruh dunia dalam  organisasi Negara-negara dengan perekonomian besar di dunia tersebut. Dan konsekuensinya adalah, Indonesia harus turut serta dalam setiap kebijakan yang merupakan keputusan bersama anggota G-20 itu. Dan salah satu kesepakatan yang telah diambil beberapa saat lalu adalah memberikan kontribusi untuk memperkuat dana IMF guna membantu krisis yang terjadi di Eropa. Sebagai Negara anggota G-20 indonesia diharapkan bisa membantu upaya pemulihan ekonomi eropa.

Jika melihat kondisi ekonomi  saat ini, sebenarnya Indonesia mempunya kemampuan untuk memberikan sumbangsihnya kepada IMF tersebut. Fundamental ekonomi yang kuat tidak akan terlalu berpengaruh dengan pemberian bantuan dana ini.  Dilihat dari beberapa Negara yang juga memberikan bantuan permodalan,bantuan yang akan diberikan Indonesia masih tergolong sangat kecil. China memberikan bantuan dana sebesar 43 miliar dollar, Australia meminjamkan 10 miliar dollar, sementara Indonesia hanya akan membantu sekitar satu miliar dollar. Meski memang, bagi masyarakat di dalam negeri jumlah itu adalah luar biasa besar dan sangat berarti.

Publik di Indonesia memang sangat sensitif dengan keberadaan IMF ini. Banyak yang menganggap bahwa IMF lah yang telah menjerat Indonesia kedalam pusaran utang yang berkepanjangan. Kekecawaan mendalam tampaknya menjadi alasan untuk menolak memberikan bantuan dana kepada IMF. Lantas, bukankah ini merupakan manifestasi egoisme pribadi? Mengabaikan permohonan bantuan dari pihak lain dengan alasan klise, dendam?

Sepertinya sekarang kita perlu kembali melihat cita-cita bangsa yang terkristal dalam preambul Undang-undang Dasar 1945. Dimana dengan jelas tersurat bahwa tujuan Negara ini didirikan adalah untuk turut serta dalam menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia. Artinya kita akan turut serta dalam semua upaya demi kemaslahatan masyarakat dunia. Termasuk dalam bidang ekonomi. Tidak ada yang salah dalam pemberian bantuan kepada pihak lain yang membutuhkan. Dan lagi, dengan kita membantu pemulihan ekonomi Negara-negara yang terimbas krisis bukankan kita juga membantu melindungi dan menjaga perlidungan Hak-hak asasi di Negara-negara tersebut? Ekonomi yang pulih akan menghindarkan kemiskinan masyarakat dinegara itu. Ekonomi yang terjaga setidaknya akan menjamin pemenuhan kebutuhan akan pendidikan yang layak dan pengembangan diri melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Semua itu erat kaitannya dengan Hak Asasi Manusia. Negara kita sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia. Dan Hak Asasi Manusia bersifat universal, bukan hanya untuk penduduk suatu Negara tertentu saja, tapi berlaku di seluruh belahan dunia.

Bebas-Aktif

Dari sisi politik luar negeri, Negara kita menganut prinsip bebas-aktif. Bebas artinya kita tidak berada dalam satu pihak yang saling berseberangan atau tidak terlibat dalam perselisihan eko-ideologi dunia. Kita berada dalam satu ruang  yang netral yang memihak kepada semua yang menjadi kebaikan untuk dunia. Aktif artinya kita akan selalu turut serta dalam semua upaya menciptakan dunia yang aman dan damai.  Sekali lagi, posisi kita berada dalam suatu keharusan untuk membantu memberikan kontribusi pemulihan krisis global saat ini.

Namun kemudian, apakah Indonesia mampu memberikan bantuan tersebut ditengah kebutuhan dana dalam negeri saja yang masih kekurangan? Menjawab hal tersebut, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menyebutkan bahwa bantuan dana tersebut akan diambil dari cadangan devisa, bukan dari APBN. Dan cadangan devisa kita tidak akan terganggu dengan pemberian pinjaman ini. Lagi pula, pinjaman ini akan dilakukan dalam bentuk pembelian Obligasi, dan akan ada bunganya. Bukankah itu tidak akan merugikan kita? bukankah dana itu nanti juga akan di kembalikan ? bahkan dengan bunga?

Baiknya saat ini kita melupakan egoisme pribadi demi orang lain yang sedang membutuhkan bantuan. Terlepas dari bagaimana dana itu akan dikelola, paling tidak kita telah menunjukkan kepada dunia internasional, kita juga mempunyai peran dan tanggung jawab untuk kebaikan dunia. Toh kita juga tidak akan dirugikan karenanya? Dengan bantuan ini kita akan lebih dihargai dan dihormati sebagai suatu bangsa yang disegani. Kita bukan  Negara yang hanya berkutat dengan komplektisitas masalah internal saja. Tapi kita sebenarnya adalah bangsa yang besar, bangsa yang mempunyai peran dalam pergaulan dunia. Ingat, Soekarno sempat menyisipkan nilai Internasionalisme dalam rancangan Pancasila-nya. Ini menunjukkan betapa beliau ingin sekali membawa bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat, yang mempunyai pengaruh besar  dalam lalu lintas pergaulan dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s