Gemarkan Membaca dan Menulis

Perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi belakangan ini sedemikian pesat dan maju. Terutama bidang teknologi informasi dan transformasi. Semua hal dibuat sedemikian cepat dan mudah untuk diketahui. Semakin hari manusia semakin dimanjakan oleh kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan oleh berbagai jenis teknologi yang berkembang. Namun hal ini tidak hanya membawa manfaat bagi masyarakat, tapi juga memberikan  budaya negatif sebagai implikasi semua hal yang serba mudah dan nyaman. Termasuk budaya kurangnya gemar membaca dan menulis.

Kegiatan menulis dan membaca akhir-akhir ini dianggap sebagai sebuah kegiatan yang membosankan. Para remaja lebih memilih untuk menonton tayangan televisi dari pada membaca buku apa lagi menulis. Waktu seharian bisa dihabiskan hanya untuk menonton program-program televisi atau  bermain game atau mengutak atik pesan yang masuk di BlackBerry Massenger.

Menulis bukanlah sebuah perkara yang susah maupun gampang. Menulis tidak sulit karena menulis merupakan sebuah proses menuangkan ide yang sudah terdapat dalam otak kita yang telah mengalami proses pemikiran sebelumnya. Hal yang membuat menulis menjadi sulit ada keinginan yang ada pada diri kita masing-masing (Tartono, 2005). Niat menulis yang datang dan pergi membuat kita menjadi tidak konsisten terhadap dunia tulis-menulis ini. Menurut Tartono, 2005 terdapat tiga hal yang dibutuhkan bagi seorang penulis : teknik penulisan, isi atau muatan, dan kontinuitas. Ketiga hal di atas menjadi penting untuk dipertimbangkan jika tulisan yang dibuat ingin “masuk” ke dalam media massa.

 

Menulis di media massa juga memerlukan teknik yang dapat dipelajari dan dilatih karena menulis bukanlah suatu bakat yang tidak dimiliki oleh semua orang. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan jika anda ingin menjadi seorang penulis media massa yang paling dasar adalah teknik penulisan. Teknik penulisan terdiri dari beberapa hal, mulai dari karakter media yang dijadikan target, sasaran pembaca, hingga hal-hal teknis seperti bahasa yang digunakan sampai tata cara penulisan (Hadinur, 2006). Selain itu, seperti yang telah dituliskan diatas isi atau muatan dari tulisan yang ingin di publish pun harus diperhatikan agar tulisan menjadi “cemilan” yang enak dikonsumsi. Jika tulisan yang sudah dibuat belum dimuat maka jangan berputus asa, kekontinuan dalam menulis melatih kita dalam menggunakan bahasa dan mempermainkan kata sehingga tulisan kita menjadi “enak” untuk disajikan.

 

Data statistik menunjukkan dari 476 penerbit buku di Indonesia saat ini, buku yang terbit setiap tahun hanya 12.000 judul buku. Jika setiap judul dicetak 100 eksemplar maka setiap tahun hanya ada 12 juta buku baru yang beredar di Indonesia. Ini sangat tidak sesuai dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai angka lebih dari 220 juta jiwa (Purnama, 2010). Minat baca yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia pada tahun 2006 adalah 23,5% atau setara dengan 51 juta penduduk Indonesia gemar membaca (Badan Pusat Statistik, Indonesia). Jika kedua data dibandingkan maka dapat terlihat bahwa orang yang gemar membaca di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan orang yang gemar menulis. Mari kita melihat data ini dengan jeli, dari data yang dimiliki dapat dipastikan bahwa menjadi seorang penulis itu merupakan sesuatu yang memiliki prospek yang cukup besar di Indonesia. Jumlah penulis yang sedikit, baik penulis artikel, berita, feature, novel, cerpen, maupun buku ilmu pengetahuan lainnya, akan menyebabkan terbukanya peluang seseorang untuk masuk kedalam dunia tersebut.

 

Tidak bisa ditampik bahwa menulis itu harus memiliki dasar, sehingga menulis tanpa membaca terlebih dahulu akan menghasilkan tulisan yang dangkal. Membaca tentu saja tetap sangat penting, namun ada saatnya ketika kita sudah membaca banyak buku kita berhenti sejenak untuk mengolahnya dan menjadikannya sebuah tulisan yang baru yang kita kemas dengan cara yang lebih praktis, asik, dan menyenangkan bagi publik. Mengingat perkataan Bapak Adriano, sampai kapan kita akan menjadi orang yang konsumtif terhadap ilmu? Sudah saatnya kita lah yang menuliskan ilmu itu dan menjadi seseorang yang produktif terhadap ilmu. Jika anda masih bertanya, lantas bagaimana cara menulis di media massa? Maka sadari saja dahulu bahwa dasar menulis adalah menjadi penulis itu sendiri.

Selain itu, manfaat menulis dan membaca itu luar bisa banyak sekali. Saat ini Menulis adalah menjadi salah satu profesi yang cukup memberikan jaminan kesejahteraan dan ekonomi. Telah banyak para penulis-penulis berbakat yang telah sukses dan tak kalah dengan profesi-profesi bergengsi lainnya. Apa lagi di era perkembangan informasi yang sedemikian cepat dan sangat mudah diakses, kegiatan menulis menjadi sangat dibutuhkan dan memberikan peluang kerja yang sangat luas. Untuk itu, menghadapi tantangan global yang sedemikian kompetitif ini, kegiatan membaca dan menulis ini harus semakin di galakkan demi terciptanya manusia-manusia Indonesia yang kreatif dan siap bersaing dengan masyarakat dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s