Tak Prematur Menyoal 2014

foto: lpjk.wordpress.com

foto: lpjk.wordpress.com

Menapak awal 2013,menatap 2014, tak lepas dari segudang prahara politik negeri. Arah demokrasi membabi-buta begitu bebasnya. Atas nama kebebasan, etika berpolitik dan bernegara semakin ditepikan. Pelajaran politik disuguhkan dengan cara-cara yang tak lagi pantas ditiru. Ditambah lagi, gaung warta tentang korupsi, Konflik sana-sini, kriminalitas yang semakin tinggi meski ekonomi terlanjur mendapat puja-puji. Ya, ekonomi semakin baik bagi sebagian orang, tapi tidak untuk sebagian lagi penduduk negeri. Ekonomi tumbuh baik kata mereka, dengan statistik makro yang terbilang gemilang. Lumayan untuk dinikmati sebagai penyejuk semu ditengah dahaga akan berita yang baik-baik untuk bangsa yang semakin skeptis akan adanya kenikmatan bernegara yang tertib, yang bebas korupsi, yang sejahtera.

Jilid demi jilid risalah hukum panggung para penguasa Negara yang mensuprimasikan hukum dengan kompilasi embel-embel demokrasi ini, ya Negara hukum yang demokratis katanya, semakin membuat pesimis para penghuninya. Entah bidang apa lagi yang tak ada masalah. Entah badan Negara mana lagi yang tak bermain dusta merampok harta Negara atau mengkomoditaskan kursi-kursi kuasa. Bahkan kitab suci yang seharusnya menjadi barang yang benar-benar suci dari segala kekotoran dunia pun tak luput dari lirikan perampok-perampok berkerah biadab, apa lagi hal sebangsa hewan sapi atau makhluk apalah, bukan sesuatu yang luar biasa alias sudah biasa menjadi ladang-ladang uang koruptor. Belum lagi tuntas kasus-kasus korupsi terdahulu, sudah tumbuh sejumlah persoalan-persoalan baru. Babak Century belum tuntas di entas, Hambalang suguhkan drama para pialang tahta. Bola salju menggelinding hebat dari gedung-gedung olahraga Hambalang, melibas para poli-tikus jago cuap. Semua berbicara kebenaran. Yang salah mereka, bukan saya. Hingga sumpah digantung di menara tak menjadi tabu tuk dikata. Tampilan religius sempurna tak menjadi garansi politikus bersih. Toh Alqur’an saja tak haram dikorupsi bagi mereka.
Belum lagi di akar rumput, konflik etnis, tawuran pelajar, bahkan perang antar kampung!
Sejatinya dalam kondisi seperti ini, Aparat penegak hukum entah kepolisian atau kejaksaan, menjadi pion utama bersih-bersih Negara. Tapi apa mau dikata, mereka sendiri bermain dusta, berselingkuh dengan kepentingan-kepentingan pribadi, memperkosa kepercayaan rakyat, Korupsi juga menjadi tradisi di institusi. Sama saja, setali tiga uang, pesimis untuk diandalkan. Yang ada suguhan gratis adu jotos dengan saudara sesama pelindung Negara. Hebat.
Inikah produk reformasi yang luar biasa susah kita capai? Reformasi menelurkan kekacauan multidimensi bukan keindahan pembaharuan? Reformasi negeri ternyata menimbulkan ketidakpastian. Semua terombang ambing dengan kuasa serba bebas. Bebas memanipulasi, bebas mendramatisasi, bebas mengolah informasi. Semua berbicara, tak tahu lagi yang mana yang bisa didengar, yang harusnya didengar atau tak pantas di dengar. Semua ingin seperti ini, seperti itu. Opini dilontar semau mulut dan perut. Ibarat pribahasa klasik, Mulut bau madu, pantat bawa sengat. Mulut manis tapi hati busuk. Kuasa infomasi pun dimiliki Politikus-politikus utama. Tak heran jika paradigma dan pemikiran bangsa mudah digiring kemana mau mereka, konglomerat media.
Akhirnya kita mulai bisa memahami mengapa aristoteles menggolongkan demokrasi sebagai degradasi dari yang Negara yang tercita,Negara yang seharusnya, das sollen. Demokrasi menurut aristoteles adalah bentuk aristokrasi yang sudah tercemar. Tercemar oleh kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok-kelompok penguasa. Demokrasi adalah bentuk kemerosotan dari Negara bebas yang diidam-idamkan. Bukan bebas yang baik, tapi bebas yang termotifkan kepentingan perut. Gurunya sendiri, Plato mendalilkan tiga kebajikan (wisdom) manusia dalam motif bernegara. Pertama, bila akal menguasai manusia maka akan ada kebijaksanaan. Jika kehendak yang menguasai manusia maka muncul keberanian. Tapi jika keinginan/nafsu menguasai manusia maka yang ada adalah penguasaan.
Maka, Skeptis tak terelakkan untuk menatap 2014, selama moral negeri masih seperti ini. Sistem yang baik jika dijalankan oleh orang yang tidak baik toh tetap akan amburadul. Namun Optimis bukan hal yang menjadi mustahil. Kita akademisi masih sebagai yang paling diharapkan menjadi bibit-bibit negarawan yang bersih. Bukan mustahil untuk mengadakan perubahan meski entah kapan hasil yang inginkan tercapai. Hal yang paling rasional dilakukan adalah berpartisipasi dalam pengawasan menciptakan pesta demokrasi yang paling tidak lebih baik dari sebelumnya. Tak prematur membicarakan 2014 demi persiapan untuk berperan di hari yang menentukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s